PONTIANAK — Fadil Maulana, mahasiswa Poltekkes asal Pontianak yang juga merupakan Founder Rumpaka, menghadiri pertemuan bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak pada Selasa (13/10/2026). Pertemuan tersebut turut dihadiri Bedrus Sholeh, Ketua Himpunan Mahasiswa Pontianak (HIMAPON), untuk membahas rencana pengembangan program 1.000 Pojok Baca di Warung Kopi (Warkop).
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Diskusi, Gedung Layanan Perpustakaan, Jalan Ampera, Kota Pontianak, tersebut menjadi bagian dari upaya menjajaki pengembangan ruang literasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Gagasan ini mendorong warung kopi tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk membaca, bertukar gagasan, dan memperluas wawasan.
Sebagai mahasiswa sekaligus penggerak komunitas, Fadil Maulana memandang keterlibatan anak muda dalam gerakan literasi sebagai bentuk kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Menurutnya, mahasiswa memiliki potensi untuk menghadirkan gagasan kreatif yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk dalam memperluas akses terhadap bacaan.
“Anak muda harus berani mengambil peran dalam perubahan. Kita tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk memberikan dampak. Mulailah dari hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan hari ini. Jika ruang berkumpul seperti warung kopi dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan budaya membaca, mengapa kita tidak ikut mendorongnya?” menjadi pesan motivasi yang dapat diangkat dari gagasan Fadil mengenai gerakan literasi.
Ia juga berharap rencana 1.000 Pojok Baca di Warkop dapat membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, mahasiswa, komunitas, dan pelaku usaha. Menurut gagasan tersebut, gerakan literasi akan lebih mudah berkembang apabila masyarakat dilibatkan dan akses terhadap buku semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Kehadiran Fadil dan Bedrus Sholeh dalam pertemuan tersebut mencerminkan pentingnya peran generasi muda dalam mendukung inisiatif pengembangan literasi di Kota Pontianak. Sinergi lintas pihak diharapkan dapat mendorong lahirnya ruang-ruang belajar informal yang inklusif dan berkelanjutan.
Bagi Fadil, kontribusi mahasiswa tidak semata-mata diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari kepedulian dan keberanian untuk terlibat dalam persoalan sosial di lingkungan sekitarnya.
“Jangan hanya menjadi generasi yang menyaksikan perubahan, tetapi jadilah generasi yang ikut menggerakkannya. Dari sebuah buku, sebuah diskusi, dan sebuah langkah kecil, kita bisa mulai membangun masa depan yang lebih baik bagi Pontianak,” menjadi pesan penutup yang menggambarkan semangat keterlibatan anak muda dalam gerakan literasi.


Komentar