Kubu Raya, 30 Agustus 2026 — Memasuki usia ke-3, Rumpaka (Rumpun Pustaka) terus menegaskan komitmennya untuk memperluas gerakan literasi hingga ke pelosok negeri.
Dalam momentum Hari Lahir Rumpaka ke-3, organisasi ini hadir di Desa Madusari, Kabupaten Kubu Raya, dengan membawa bantuan buku sekaligus mendorong pembangunan dan penguatan perpustakaan sebagai ruang belajar bagi anak-anak dan generasi muda di daerah.
Bagi Rumpaka, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan adalah ruang untuk bertumbuh, tempat rasa ingin tahu berkembang, dan pintu yang membuka cakrawala pengetahuan.
Founder Rumpaka, Fadil Maulana, mengatakan bahwa pembangunan perpustakaan di daerah merupakan bentuk nyata komitmen Rumpaka dalam menghadirkan akses literasi yang lebih merata.
“Kami percaya setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses terhadap buku dan pengetahuan. Jangan sampai karena tinggal di pelosok, mereka memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk mengenal dunia dan mengejar cita-citanya.”
Menurut Fadil, gerakan literasi tidak boleh berhenti pada kegiatan membagikan buku. Literasi harus dibangun melalui ekosistem yang menghadirkan ruang sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca di tengah masyarakat.
“Kami tidak ingin hanya datang membawa buku lalu selesai. Kami ingin perpustakaan ini menjadi ruang yang hidup, tempat anak-anak membaca, belajar, berdiskusi, dan menemukan cita-cita mereka.”
Ia menilai, membangun perpustakaan di pelosok merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sebab, sebuah buku mungkin terlihat sederhana, tetapi pengetahuan di dalamnya mampu membuka dunia yang jauh lebih luas.
“Buku mungkin hanya sebuah benda, tetapi di tangan seorang anak, buku bisa menjadi jalan menuju masa depan. Dari sebuah perpustakaan, kita dapat menumbuhkan generasi yang memiliki wawasan, keberanian untuk bermimpi, dan semangat untuk terus belajar.”
Melalui langkah yang dimulai dari Madusari, Kubu Raya, Rumpaka ingin menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak harus selalu dimulai dari kota-kota besar. Perubahan dapat lahir dari daerah, dari masyarakat, dari sebuah ruang sederhana, bahkan dari satu buku yang dibaca oleh seorang anak.
“Kami memulai dari daerah karena kami percaya perubahan tidak harus selalu datang dari pusat. Dari pelosok Kubu Raya pun kita bisa menyalakan cahaya pengetahuan untuk Indonesia.”
Tiga tahun perjalanan Rumpaka bukanlah akhir, melainkan awal untuk terus memperluas gerakan literasi, menghadirkan lebih banyak perpustakaan, mendistribusikan lebih banyak buku, serta membuka akses pengetahuan bagi masyarakat di berbagai daerah.
Dari Madusari, Kubu Raya, Rumpaka menyalakan cahaya pengetahuan.
Dari Daerah untuk Indonesia.
Membangun Perpustakaan, Menumbuhkan Peradaban.
Literasi Menyatukan, Wawasan Mencerahkan.
— Fadil Maulana
Founder Rumpaka (Rumpun Pustaka)


Komentar