,

Dinamika Konbes-Munas NU di Ploso Cerminkan Tantangan Internal Organisasi

Soeara_rakjat.com , 24/6/2026 – Gelaran Konferensi Besar dan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, 20-22 Juni 2026, disebut mencerminkan kondisi NU saat ini. Sejumlah pihak menyoroti adanya praktik intimidasi yang dinilai bertentangan dengan adab dan tradisi jam’iyah. Penilaian itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Sembilangan, Bangkalan, Madura, KH Muhammad Shofwan Taj atau Lora…

Soeara_rakjat.com , 24/6/2026 – Gelaran Konferensi Besar dan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, 20-22 Juni 2026, disebut mencerminkan kondisi NU saat ini. Sejumlah pihak menyoroti adanya praktik intimidasi yang dinilai bertentangan dengan adab dan tradisi jam’iyah.

Penilaian itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Sembilangan, Bangkalan, Madura, KH Muhammad Shofwan Taj atau Lora Shofwan. Pesantren yang berdiri sejak pertengahan abad ke-18 dan terletak dekat makam Syaikhona Kholil itu menilai NU sedang menghadapi masa krusial.

Menurut Lora Shofwan, marwah NU yang didirikan para ulama dan wali Nusantara kini diuji berbagai tantangan. Salah satunya terlihat saat Sidang Pleno III Konbes dan Munas di Ploso.

“Bagaimana oknum yang berlagak preman organisasi bermanuver di hadapan para masyayikh dan sesepuh pesantren. Tanpa adab dan unggah-ungguh santri, mereka melampiaskan emosi dan pikirannya,” kata Lora Shofwan, Rabu 24/6/2026.

Ia menyayangkan aksi tersebut tidak hanya dilakukan kader muda, tetapi juga tokoh senior NU yang memiliki banyak pengikut. “Kalau ini ditiru generasi selanjutnya, NU akan terus diselimuti awan gelap,” tegasnya.

Lebih lanjut, Lora Shofwan melihat dinamika Konbes-Munas menunjukkan gejala menguatnya pragmatisme dan kapitalisasi di tubuh jam’iyah. Fenomena itu tak hanya terjadi di level elite, tapi sudah merambah struktur dan kader. Ia juga menyoroti melemahnya peran masyayikh dan kiai sepuh sebagai rujukan moral.

Kondisi ini, kata dia, sudah diingatkan KH M. Hasyim Asy’ari sejak dulu. Peringatan itu tertuang dalam kitab Tanbih an-Nahdliyyin karya KH Imam Zarkasyi Junaidi.

“Beruntunglah pemimpin jam’iyyah NU yang berjuang untuk kejayaan jam’iyyah. Celakalah pemimpin yang menunggangi NU untuk kepentingan pribadi,” kutipnya dari fatwa Hadratussyaikh.

Lora Shofwan menegaskan, yang merusak NU bukan warganya, melainkan oknum pemimpin yang ingin berkuasa demi akses politik dan oligarki. Akibatnya NU jauh dari fungsi awalnya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.

“NU sekarang bukan lagi rumah besar untuk berteduh warga dan umat. Tapi dikuasai kelompok yang menunggangi kebesaran NU demi keuntungan pribadi,” ungkapnya.Ia juga menilai NU kini kehilangan perannya sebagai civil society dan pusat keseimbangan strategis. Keterlibatan sejumlah pengurus PBNU di jabatan politik lewat bargaining kekuasaan membuat NU sulit konsisten pada khittah.

“Coba lihat keputusan Muktamar ke-20 NU tahun 1954. NU tegas melarang pengurus merangkap jabatan politik di pemerintahan. Itu untuk menghindari konflik kepentingan agar NU tetap berjalan sesuai khittahnya,” pungkas Lora Shofwan.

Type your paragraph here

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *