Inspirasi Regional
Beranda » Blog » FADIL MAULANA DORONG PONTIANAK BERTRANSFORMASI DARI KOTA SERIBU WARUNG KOPI MENJADI KOTA BUKU

FADIL MAULANA DORONG PONTIANAK BERTRANSFORMASI DARI KOTA SERIBU WARUNG KOPI MENJADI KOTA BUKU

Pontianak — Pendiri Rumpaka (Rumpun Pustaka), Fadil Maulana, menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Kota Pontianak dan Wali Kota Pontianak agar identitas “Kota Seribu Warung Kopi” tidak hanya menjadi simbol budaya ngopi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi kekuatan baru dalam membangun budaya literasi dan pendidikan masyarakat.

Menurut Fadil, Pontianak memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi Kota Buku, Kota Literasi, bahkan Kota Orang-Orang Berpendidikan. Potensi tersebut dapat dimulai dari ruang yang selama ini paling dekat dengan kehidupan masyarakat Pontianak: warung kopi dan coffee shop.

Berdasarkan data Pemerintah Kota Pontianak, hingga Agustus 2025 terdapat 1.035 warung kopi dan coffee shop yang tersebar di enam kecamatan di Kota Pontianak. Jumlah tersebut menjadi kekuatan sosial yang sangat besar apabila setiap warung kopi tidak hanya menjadi tempat minum kopi dan berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca, berdiskusi dan bertukar gagasan.

Fadil Maulana meminta Wali Kota Pontianak untuk mempertimbangkan penerbitan Surat Edaran Wali Kota atau Peraturan Wali Kota tentang Gerakan Literasi Warung Kopi dan Coffee Shop.

“Pontianak sudah dikenal sebagai Kota Seribu Warung Kopi. Saya kira sekarang saatnya kita memiliki cita-cita yang lebih besar. Kenapa tidak warung kopi yang jumlahnya lebih dari seribu ini kita jadikan bagian dari gerakan literasi? Dari tempat orang ngopi, kita bangun kebiasaan membaca. Dari tempat berkumpul, kita lahirkan gagasan,” ujar Fadil Maulana.

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Berlaku

Melalui gagasan tersebut, Fadil mengusulkan agar setiap warung kopi dan coffee shop di Kota Pontianak memiliki pojok buku atau perpustakaan mini yang menyediakan minimal 10 buku yang dapat dibaca secara gratis oleh pengunjung.

Jika 1.035 warung kopi dan coffee shop di Pontianak menyediakan minimal 10 buku, maka akan tersedia sedikitnya 10.350 akses buku yang tersebar di berbagai sudut Kota Pontianak.

“Bayangkan, kita tidak perlu selalu membangun gedung perpustakaan baru untuk mendekatkan buku kepada masyarakat. Kita bisa membawa buku ke tempat masyarakat sudah berada. Hari ini masyarakat Pontianak gemar berkumpul di warung kopi, maka buku juga harus hadir di sana,” tegasnya.

Selain pojok buku, Fadil juga mengusulkan agar setiap warung kopi dan coffee shop didorong untuk melaksanakan minimal satu kegiatan literasi dalam satu tahun, baik dalam bentuk seminar, diskusi buku, bedah buku, diskusi pendidikan, kelas menulis, diskusi sejarah, maupun forum intelektual lainnya.

Apabila 1.035 warung kopi dan coffee shop melaksanakan minimal satu kegiatan literasi setiap tahun, maka Pontianak berpotensi memiliki lebih dari seribu ruang kegiatan literasi dalam setahun.

DPW NasDem Kalimantan Barat Bersama Badan dan Sayap Partai Bagikan 5.555 Paket di Lampu Merah Desa Kapur

Menurut Fadil, gerakan ini bukan untuk membebani pelaku usaha, melainkan membangun kolaborasi antara pemerintah, pelaku UMKM, komunitas literasi, mahasiswa, kampus dan masyarakat.

“Warung kopi telah memberikan banyak hal untuk Pontianak. Ia menggerakkan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan dan menjadi ruang sosial masyarakat. Sekarang mari kita tambahkan satu fungsi lagi: menjadikan warung kopi sebagai ruang pendidikan dan ruang pencerdasan,” katanya.

Fadil menilai bahwa Pontianak memiliki kesempatan untuk menciptakan identitas baru yang tidak dimiliki banyak kota lain di Indonesia.

“Kita ingin suatu hari nanti ketika orang berbicara tentang Pontianak, mereka tidak hanya berkata: Pontianak adalah Kota Seribu Warung Kopi. Tetapi mereka juga berkata: Pontianak adalah Kota Buku, Kota Literasi, dan kota tempat orang-orang gemar berpikir, membaca dan berdiskusi.”

Melalui gerakan tersebut, Rumpaka berharap Pemerintah Kota Pontianak dapat membuka ruang diskusi bersama seluruh pihak untuk merumuskan kebijakan yang realistis dan bertahap.

KAHMI Kubu Raya dan Dinas P3KB Perkuat Sinergi, Gelar Seminar Parenting tentang Peran Ayah

Sebab kota yang maju bukan hanya kota yang memiliki banyak bangunan, banyak kafe dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang memiliki masyarakat yang gemar membaca, berpikir, berdiskusi dan terus belajar.

Dari secangkir kopi, kita bisa memulai percakapan.

Dari sebuah buku, kita bisa mengubah cara berpikir.

Dan dari warung kopi di setiap sudut kota, kita bisa membangun masa depan Pontianak yang lebih berpendidikan.

PONTIANAK KOTA SERIBU WARUNG KOPI.

PONTIANAK MENUJU KOTA BUKU.

PONTIANAK MENUJU KOTA LITERASI.

PONTIANAK MENUJU KOTA ORANG-ORANG BERPIKIR.

— Fadil Maulana

Pendiri Rumpaka (Rumpun Pustaka)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *